Biksu Tibet nyolong-nyolong dipenjara senggat 20 warsa: penilik tahkik rights

HONG KONG — Empat rahib Buddha Tibet dijatuhi siksa kamp sewaktu 20 warsa ala perian rurut arkian selesai perbicaraan gelap dalam Tibet kidul, pasrah penyidikan Human Rights Watch yg tersingkap ala Selasa.

Hukumannya berbahaya justru pasrah penyangga kejahatan Tiongkok mengarah-arahi bawaan sangkaan sonder kebengisan bersama kurangnya pengingkaran sebelumnya sama paruh rahib. Organisasi tahkik kardinal hamba Allah yg berbasis dalam AS membenarkan bahwa masalah tercantum menggambarkan penjagaan sesak China lawan kesibukan online bersama meningkatnya aksen ujaran ala atasan nasional menurut menangkap krida “pengenalan” yg bangkar justru kepada pengingkaran minim, pertama dalam teritori minoritas bagai Tibet.

Wahyu muncul ala musim hari lahir ke-86 pada Dalai Lama, bos kejiwaan Tibet, yg pernah bersemayam dalam pemencilan dalam India lor per sira membelakangi darat airnya yg diperintah Cina ala warsa 1959. Cina mengirakan doi separatis walaupun sira periode membelakangi juntrungan kelepasan Tibet mendukungnya mendapat kedaulatan yg bertambah komprehensif.

Kisah paruh rahib yg dipenjara dimulai ala September 2019.

HRW mengindra bahwa bagian berkuasa menangkapi wihara Tenndro dalam Daerah Otonomi Tibet, sebelah tapal batas seraya Nepal. Dua puluh balai dalam dusun itu, ajang paruh rahib bersama rumpun mereka bersemayam, serupa sebagai alamat. Lebih pada 20 rahib bersama biksuni ditahan tatkala barang-barang batang tubuh — terpikir foto-foto bersama teks-teks keimanan yg bersambungan seraya Dalai Lama — disita.

HRW menyelami pada anak bahwa penangkapan itu dilakukan sama penjaga keamanan bersama “angkatan” Lhasa. Selama blitz, Lobsang Zoepa, seorang biksu berumur 52 warsa, pati nafsi, nyatanya selaku keberatan lawan bagian berkuasa.

Tip-off muncul pada ponsel yg lenyap. Choegyal Wangpo, seorang rahib dalam wihara, selaku kagak sahaja membelakangi ponselnya dalam sebuah restoran dalam metropolitan ala rampung Agustus alias asal September warsa itu. Pemilik ajang itu memulangkan teleponnya akan penjaga keamanan.

Menyisir maksud telepon, penjaga keamanan mengindra relasi dalam pendatang China, foto-foto Dalai Lama bersama surat ke bersama pada sesama anak Tibet pada dusun yg sesuai yg kini bersemayam dalam Nepal bersama India. Choegyal Wangpo kunjung ditahan bersama diinterogasi seraya sewenang-wenang, pasrah pernyataan itu.

Polisi nyatanya “hebat duka seraya amal yg doi kirimkan ke wihara belahan hawa Tengdro dalam Nepal,” kaul sumur akan HRW. Uang itu dikirim menurut menumpu anak Tibet bersama masyarakat mereka sembuh pada guncangan berdaya 7,8 SR yg merusakkan Nepal ala April 2015 bersama merenggut seputar 9.000 spirit.

Para rahib menjajah dalam sejauh jalan setapak yg dipagari seraya ular-ular Tiongkok dalam Tibetan Buddhist College sebelah Lhasa, dalam Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok barat. © AP

Setelah berbulan-bulan ditahan, sekerat komprehensif biksu bersama pertapa perempuan dibebaskan. Namun Choegyal Wangpo bersama tiga persona lainnya diadili selaku bersimbur dalam Pengadilan Rakyat Menengah Shigatse.

September arkian, Choegyal Wangpo divonis 20 warsa kamp. Tiga lainnya — Lobsang Jinpa, Norbu Dondrup, bersama Ngawang Yeshe — dijatuhi siksa per 19, 17 bersama lima warsa.

Secara teknis, mengirim surat online ke penyambut dalam kerajaan setangga bersama mengagih amal kemanusiaan kagak menumbuk tiorem Tiongkok. Di bidang beda, bagian berkuasa ada pangsa yg patut komprehensif menurut eksplanasi tempo menempel krida yg dianggap “memudaratkan kesejahteraan domestik” alias “menghasut provinsialisme”, justru seraya nas yg penyakitan. Tuduhan tercantum mampu memicu siksa lima warsa alias bertambah, tapi saja sekiranya tercema ialah “seorang bos alias persona yg kejahatannya berbahaya,” pasrah KUHP China.

Sophie Richardson, manajer HRW China, menegaskan bernas sebuah pengumuman, “Asumsi penguasa China bahwa rahib bersama biksuni Tibet ialah energi menyimpang, kenaikan kesejahteraan tapal batas, bersama kenaikan penyekatan koneksi online bersama amal keimanan seberinda digabungkan menurut menciptakan keluron kesamarataan yg mengherankan. “

Pengamat purnawirawan China mengilustrasikan masalah itu selaku “angin kencang sidi” dalam mana kaya unsur, terpikir aksen ujaran pada majikan menurut menangkap krida pencegahan terpaut soal kesejahteraan, menambuh siksa berbahaya menurut soal minim.

Laporan HRW mengindra bahwa atasan nasional yg terkancah “sekalian berjuang menurut mendemonstrasikan kegetolan mereka bersama pergi siksa atas puatang menemukan masalah sebelumnya.”

Laporan tercantum serupa menyuratkan bahwa, “Dalam koordinasi yg hebat sejahtera bagai Tibet, khususnya bernas pekerjaan aliran, bertambah sejahtera, sekiranya kagak prinsipil, potong calon menurut memperbesar sangkaan ilegalitas yg dibuat lawan orang setempat selesai sangkaan dibuat sama penguasa. atasan yg bertambah bos.”

Menangani masalah bagai itu “seraya sejati” dalam arah majikan mampu mewujudkan kepelikan potong pekerjaan. Memang, para candra selesai penangkapan, pemimpin dinas kesejahteraan orang banyak kabupaten dipromosikan sebagai duta pemimpin kesejahteraan orang banyak menurut kotamadya Shigatse — kelihatannya sebuah segel izin kepada tindakannya bernas masalah tercantum.

HRW menegaskan itu hebat membongkar pada sumur yg bersemayam dalam pendatang China tapi yg ada wawasan rinci berkenaan segalanya yg terlaksana. Untuk jejak kesejahteraan, seberinda teguh anonim. Organisasi itu menegaskan pernah menginterviu sumber-sumber ini “selaku partikelir bersama berkali-kali” seraya mendalami salib hujah seraya sumur bukti beda bersama tanya jawab sebelumnya yg dilakukan sama persona beda.

“Perlakuan mengerikan lawan rahib Tengdro menyuratkan aksen ujaran penguasa China ala atasan dalam Tibet menurut mengindra bersama mendenda masalah sabotase ketatanegaraan – justru sekiranya kira-kira sabotase ialah sedotan jempol pada khayalan mereka,” kaul Richardson.