Gempa Terlambat Yang Pernah Tercatat Berlangsung Selama Tiga Puluh Tahun

AsianScientist (31 Mei 2021) – Dengan menafahus jalin baheula, karet pengkaji sejak Singapura suah menghimpunkan guncangan memutar tunagrahita yg tahu tersimpul, yg berlantas semasih 32 warsa, demi keadaan sebelum kesedihan guncangan ardi Sumatera warsa 1861. Temuan mereka dipublikasikan pada Geosains Alam.

Terletak pada Cincin Api, Indonesia tiada lain demi tembakan jabal berkobar lalu guncangan ardi. Di medio 19th waktu, daratan Sumatera khususnya, diguncang sama serangkaian guncangan ardi bertenaga delapan ke bagi, demi yg buncit ala warsa 1861 memicu tsunami sengit demi beribu-ribu alamat sukma.

Tapi kendati kita kerap memandang guncangan ardi selaku afair yg menggelisahkan, itu tiada kerap berlaku. Selama ‘afair carik tunagrahita’, ceper tektonik Bumi menjauhkan lagu kalimat lalu meluncur suatu kembar asing minus gerakan alias kebobrokan mahal — ​​cuma bergulir sekeliling sejumlah sentimeter semasih sejumlah weker alias rembulan, alias paling sedikit taat karet pengkaji.

Saat menafahus latar samudra historis mengonsumsi jalin baheula yg disebut microatolls pada Pulau Simeulue Indonesia, yg terwalak pada terlepas pesisir Sumatera, pasukan sejak Nanyang Technological University, Singapura (NTU) mereka cipta penciptaan yg mengguncangkan. Saat mereka bertunas ke pinggir lalu ke bagi, jalin mikroatol berdiri diskus sebagai alamiah merekam metamorfosis latar samudra lalu ketinggian pulau menerobos sablon pertumbuhannya.

Dengan mengumpulkan keterangan mikroatol demi replikasi kiprah ceper tektonik ardi, pasukan NTU mencium bahwa sejak warsa 1829 limit guncangan Sumatera warsa 1861, Pulau Simeulue divisi tenggara kelelap bertambah sput sejak ancar-ancar ke samudra.

Menurut pasukan, afair longsoran tunagrahita ini sama dengan mode berjenjang semasih 32 warsa yg memadamkan lagu kalimat pada divisi ringan bekas duet ceper tektonik harmonis. Namun, lagu kalimat ini dipindahkan ke irisan setangga yg bertambah bermutu, yg berpuncak ala guncangan ardi lalu tsunami bertenaga 8,5 perbandingan Richter ala warsa 1861 yg menyulut pembengkakan mahal lalu alamat sukma.

Penemuan mereka membubuhi afair longsoran tunagrahita terpanjang yg tahu tersimpul — mengikat karet sarjana mendapatkan mencari akal rujuk memegangkan durasi lalu proses guncangan ardi sejenis itu. Alih-alih berjam-jam alias berbulan-bulan, guncangan ardi sejenis itu bisa berlantas semasih sejumlah dasawarsa minus mencetuskan gerakan yg mengganyang lalu tsunami yg umumnya tersimpul bermutu silsilah.

Faktanya, afair carik tunagrahita malahan bisa diabaikan sama rekaman instrumental selagi ini, yg galibnya cuma berdurasi limit sepuluh warsa. Dengan mengimplementasikan metodologi yg aktual ditemukan, pasukan NTU mengenali kemampuan afair longsoran tunagrahita yg masih berlantas pada Pulau Enggano, Indonesia, yg terwalak sekeliling 100 kilometer barat kompetensi Sumatera.

“Jika temuan ego akurat, ini berisi bahwa bangsa yg duduk pada sekeliling daratan Indonesia ini berpotensi membangkang akibat tsunami lalu guncangan ardi yg bertambah semampai dari yg diperkirakan sebelumnya,” sebutan asisten sastrawan belajar, Asisten Profesor Aron Meltzner sejak NTU. “Ini menyatakan bahwa tiruan akibat lalu rencana mitigasi harus diperbarui.”

“Sungguh mengganjur bukan terik yg bisa ego temukan cuma sejak sebutir posisi jalin yg berlokasi paradigma,” imbuh sastrawan ulung Bapak Rishav Mallick, seorang mahasiswa PhD pada Sekolah Lingkungan Asia NTU. “Metode yg ego menjadikan anak bermutu karangan ini serupa mau berfaedah mendapatkan belajar sesudah itu berkenaan zona subduksi lainnya — tempat-tempat yg menyilukan guncangan ardi, tsunami, lalu tembakan jabal berkobar. Oleh lantaran itu, observasi ego bisa berkontribusi ala pengukuran akibat yg bertambah setia pada peluang dada. “

Artikel terkandung bisa ditemukan pada: Mallick et al. (2021) Peristiwa carik tunagrahita ringan yg tua bengkok berjarak pada megathrust Sunda.

———

Sumber: Universitas Teknologi Nanyang, Singapura; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini tiada merepresentasikan langkah AsianScientist alias stafnya.