Melukis Pelangi Dengan Bakteri Rekayasa

AsianScientist (8 Juli 2021) – Untuk perdana kalinya, getah perca penyelidik sejak Korea Selatan mungkin merekayasa patogen yg makmur menciptakan ketujuh rona keluwung. Metode mereka dijelaskan lubuk Ilmu Pengetahuan Lanjutane.

Terlepas sejak apakah Anda tahu mengepas Skittles—segel kembang gula kejai keping pancarona—alias tiada, Anda definit tahu menurut jargon mereka: cicipi keluwung. Sekarang dianggap selaku melenceng uni tagline menyimpangkan ikonik lubuk riwayat modis, frasa termaktub menyuluhi bagaimanapun juga meluasnya pewarna lubuk kesibukan kita sehari-hari.

Dari pangan ringkas yg kita menyerang sempadan dandanan yg kita mengenakan, kita beradu sama pewarna setiap yaum—artinya senyawa ini angsal mengajak kebugaran kita sama gaya yg tiada rusuh. Saat ini, sebelah gembung pewarna terbuat sejak petro buana, yg tiada saja mengundang buntut lis yg tiada terkira, lamun serta menyebabkan efek distribusi bumi. Misalnya, pabrik pencelupan kain sebagai prominen oleh menodai ci, terpenting dalam Asia.

Mengingat kecemasan ini, getah perca penyelidik suah menggali pemanfaatan mikroba mendapatkan menciptakan pewarna alamiah yg bertambah naim. Namun, cara pabrikasi ibarat itu belum direalisasikan atas rasio pabrik oleh buatan yg permulaan, walaki biayanya jangkung.

Ini mengilhami kontingen insinyur metabolisme dalam Institut Sains dengan Teknologi Korea Lanjutan (KAIST) mendapatkan mencium gaya yg bertambah kordial mendapatkan mendayagunakan mikroba mendapatkan pabrikasi pewarna alamiah.

Dipimpin sama Profesor Lee Sang Yup, getah perca penyelidik berpusat atas rekayasa metabolisme Escherichia beha patogen mendapatkan selaku ekonomis menciptakan tujuh pigmen alamiah. Secara khas, ini merupakan tiga ragam karotenoid: astaxanthin (berma), karoten (merah jingga) dengan zeaxanthin (asfar) dengan catur anak violacein: proviolacine (remaja), prodeoxyviolacein (biru), violacin (navi), dengan deoxyviolacein (ungu) .

Ketika patogen menciptakan pigmen, mereka kebanyakan melonggokkan dalam lubuk unit—yg mengantongi pos penyimpanan terpatok. Bekerja dalam sekeliling pemisahan ini, kontingen merekayasa gambaran unit dengan menciptakan kantung tamam semu dalam lubuk mendapatkan menaikkan pos unit mendapatkan pigmen.

Untuk bertambah menaikkan pabrikasi, getah perca penyelidik serta menciptakan kantung semu dalam volume asing unit yg angsal menghembuskan pigmen—menciptakan pewarna remaja dengan biru bahar alamiah mendapatkan perdana kalinya. Menurut kontingen, cara mereka angsal digunakan mendapatkan selaku ekonomis menciptakan pewarna yg vital selaku pabrik dalam serata pabrik pangan, farmasi dengan kosmetik, mewakili pewarna tiruan berbasis petro buana mendapatkan selalu.

“Karena merawat kebugaran yg kordial dalam konsorsium yg menua sebagai semakin vital, awak berserah bahwa teknologi dengan cetak biru yg dikembangkan dalam sini hendak mempergelarkan karakter vital lubuk menciptakan komoditas alamiah bernilai lainnya yg vital mendapatkan medis alias nutrisi,” sahap Lee.

Artikel termaktub angsal ditemukan dalam: Yang et al. (2021) Produksi Pewarna Pelangi sama Rekayasa Metabolik Escherichia beha.

———

Sumber: Institut Sains dengan Teknologi Tingkat Lanjut Korea; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini tiada memantulkan pemikiran AsianScientist alias stafnya.