Memfaktorkan Perilaku Manusia Dalam Analisis Perubahan Iklim

AsianScientist (5 Juni 2021) – Sementara masukan dunia selaku pendapat mulai setengah akbar telaah transformasi hawa, sebuah menggali ilmu hangat yg berpusat ala Kamboja mengekspos bahwa kelakuan individu pula mesti diintegrasikan ke analitis rampai masukan hawa. Temuan mereka dipublikasikan pada Kemajuan Ilmu Pengetahuan.

Sejak 1974, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah memasang 5 Juni demi Hari Lingkungan Hidup Sedunia—beserta pesta tarikh ini memekikkan aktivitas pantas kepada membakar balik ekosistem kita yg hilang lenyap, mengembari transformasi hawa, pula mencegah kerobohan biologis. Iterasi 2021 pula hendak melancarkan Dekade PBB mengenai Restorasi Ekosistem, delegasi mondial kepada merevitalisasi miliaran hektar mulai wana selaku kapling persawahan sangkat 2030.

Di tenggang kaya ekosistem yg dipertaruhkan sama dengan perikanan minuman adem, yg pertama menggendong seputar 10 bonus penduduk pada negara-negara berpenghasilan sedikit pula sedang. Karena dampak transformasi hawa, mangsa lauk bahar mondial turun catur bonus mulai tarikh 1930 sangkat 2010, beserta antisipasi pemanasan pada periode pendahuluan yg merisau kemerosotan pengetaman lauk sejumlah 13 bonus berulang ala tarikh 2050.

Meskipun pola dampak hawa yg terlihat ala perikanan menyuluhi ekor ekologis mulai penambahan temperatur, sahaja secolek tes yg merenungkan kelakuan individu.

“Untuk menebak sebagai korek ekor transformasi hawa, kita kudu memafhumi mengenai dampak ala komposisi ilmu lingkungan, pula pula dampak ala penduduk yg menggunakannya,” kentara Asisten Profesor Kathryn Fiorella mulai Cornell University, pengarang perdana menggali ilmu terkandung.

Dalam menggali ilmu terkandung, Fiorella pula rekan-rekannya berasosiasi beserta dewan tes nirlaba yg berbasis pada Malaysia, WorldFish, yg menghimpunkan masukan penilikan semesta mengenai nelayan.

Melacak panti undak-undakan nelayan semasih ganda rembulan semasih tiga tarikh pada Kamboja—yg menyandang penggunaan lauk pertiwi masing-masing orang top pada loka—WorldFish menghimpunkan penerangan mengenai seberapa kerap penduduk mengompori, berapa kaya zaman yg mereka habiskan selagi mengompori, pula teknik segala sesuatu yg mereka gunakan.

Pada perpindahan temperatur 24 sangkat 31 tahapan Celcius, telaah mereka mengucapkan bahwa kali temperatur bertambah, penduduk bertambah jauh mengompori walakin pangkat mangsa lauk setengah akbar permanen simetris. Tanpa membaca kelakuan nelayan, takah-takahnya temperatur bukan berpengaruh ala buatan mangsa lauk.

Namun, pengarang mengindra bahwa simpanan lauk pula incaran akuatik lainnya menyusun seperjalanan temperatur, yg merentang ala mangsa yg secolek bertambah akbar. Ini bermaslahat bahwa ekosistem bertambah kreatif semasih term yg bertambah ramah, kian beserta bertambah secolek nelayan pada sekitarnya.

Menurut paruh penyelidik, saluran penjeratan lauk bisa jadi pernah berkurang gara-gara temperatur bertambah gara-gara hajat yg berpasangan.

“Rumah undak-undakan ini menyandang sambungan gerakan senjang yg mereka lakukan ala selagi yg simetris,” tegas Fiorella, mengingat-ingat kaya mulai mereka sama dengan petani penggarap pari maupun menggerakkan tenggang agak.

Namun, suhu yg tidak tertanggung bisa jadi tinggal selaku aspek. Karena setengah akbar penduduk pindah ke kota-kota maupun negara-negara terdamping kepada main, gairah ini pula pandai menjambret mereka menjauh mulai penjeratan lauk, tambahnya.

“Studi ini menggarisbawahi pentingnya menjambret kelakuan individu ke analitis pemodelan transformasi hawa,” Fiorella menalikan. “Pada keputusannya, mengetahui respons ekosistem pula respons puak atas temperatur hendak selaku pendapat kepada mengetahui macam mana transformasi hawa mengajak orang-orang yg sebagai melantas menggantung ala mata air gerakan kawasan kepada incaran pula perolehan mereka.”

Artikel terkandung pandai ditemukan pada: Fiorella et al. (2021) Respon nelayan atas transformasi temperatur mengucapkan pentingnya mengumpulkan kelakuan individu analitis telaah transformasi hawa.

———

Sumber: Universitas Cornell; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini bukan merefleksikan langkah AsianScientist maupun stafnya.