Menelusuri Asal Usul Virus Raksasa

AsianScientist (15 Juni 2021) – Menurut peneroka bermula India, virus gergasi bertambah bermula makhluk bernyawa bersel esa yg menyalurkan gen bermula kali ke kali. Temuan mereka dipublikasikan dalam Biologi dengan Evolusi Molekuler.

Bagi kapabel virologi dalam segenap bentala, warsa 2003 menyandang guna utama. Tidak sahaja SARS yg disebabkan sama coronavirus menghambur ke segenap Asia, lamun jua melahirkan warsa kali virus gergasi perdana ditemukan. Sebagai bakteri yg mengembat coret tengah makhluk bernyawa sebangun dengan tak sebangun, virus pernah lambat dianggap demi ikatan agak sandi genetik yg bersahaja.

Tapi yg terakhir ditemukan virus belangkas terpaut. Dengan hampir-hampir 1.000 gen penyandi zat putih telur dalam kian bermula unik juta teman basa, virus belangkas‘ barometer genom dengan keruwetan mengimbangi mikroba agak. Sementara virus gergasi melihat inspirasi konvensional keturunan Adam bab virus, mereka memang terpencar selebu dalam jisim uap, menginfeksi makhluk bernyawa uap bersel esa batas mudarat mereka.

“Karena makhluk bernyawa bersel esa ini benar mempengaruhi perubahan karbonium dalam samudra, virus gergasi menyandang karakter vital batin hati ilmu lingkungan bentala kita. Mempelajari mereka dengan evolusinya sepadan pentingnya plus menyidik virus lantaran kelainan,” sahih sastrawan unggul Dr. Kiran Kondabagil bermula Indian Institute of Technology (IIT) Bombay.

Untuk mengungkap betapa virus gergasi bertambah, Kondabagil dengan koleganya dalam IIT Bombay Dr. Supriya Patil berjuang meyakinkan meleset unik bermula dobel prinsip unggul sekitar virus belangkas pertumbuhan. Yang perdana, yg dikenal demi premis penyusutan, mengungkapkan bahwa virus gergasi bertambah bermula makhluk bernyawa bersel esa segar yg menyalurkan gen semasih bertahun-tahun. Sebaliknya, premis virus-pertama merekomendasi bahwa virus gergasi ialah warisan kadar kesibukan praseluler yg menyabet gen.

Dengan membentuk pokok kayu filogenetik zat putih telur yg tercemplung batin hati replikasi, keduanya mencium bahwa virus belangkas zat putih telur kian depan hubungannya plus eukariota dibandingkan plus prokariota, alias mikroba, dengan virus agak.

Melalui sistem yg disebut penskalaan multidimensi, Kondabagil dengan Patil jua memastikan kepadanan zat putih telur Mimiviral. Semakin mengarah-arahi zat putih telur, semakin raya peluang mereka berevolusi berbareng—mengungkapkan bahwa mereka terhubung berbareng batin hati lingkungan zat putih telur yg kian raya buat tanggung jawab terpilih.

Memang, temuan mereka mengungkapkan bahwa zat putih telur Mimiviral benar mengarah-arahi unik sepadan beda. Akhirnya, karet peneroka jua mengungkapkan bahwa gen yg terpaut plus replikasi DNA peluang mengungguli pemilihan penyucian—sebangsa pemilihan area yg melangir versi gen kritis. Dengan begitu, pemilihan penyucian acap diamati ala gen yg tercemplung batin hati tanggung jawab vital, bagaikan replikasi DNA.

Secara sekaligus, produk mereka melukiskan ibu ide kedaluwarsa virus belangkas Mesin replikasi DNA—membawa premis penyusutan bahwa alat seragam itu telah tumbuh ala kakek moyang bersel esa. Seiring kali, virus gergasi terdiri plus meminggirkan bentuk kakek moyang yg tak harus, sahaja menyisihkan samping genom yg terpaut plus replikasi.

“Temuan saya benar mengenakan gara-gara mereka menginformasikan betapa kesibukan dalam bentala pernah berevolusi. Karena virus gergasi ini dapat menghulukan keberagaman kakek moyang uniseluler selaku mikroba, archaea, dengan eukariota, mereka sewajarnya menyandang ekor raya ala rei pertumbuhan eukariota berikutnya, yg melahirkan pengasuh mereka, ”bicara Kondabagil.

Selain berkontribusi ala kesadaran rasional motivasi, operasi satuan kerja jua beroleh menaja bab terakhir batin hati investigasi translasi bagaikan rekayasa genetika dengan nanoteknologi.

“Peningkatan wawasan bab prosedur dalam mana virus mengubah badan mereka terkoteng-koteng dengan mengatur terkoteng-koteng berjasa kita berpotensi memodifikasi virus ini buat mereplikasi gen yg kita inginkan alias membentuk nanobot berlandaskan betapa virus bertindak. Kemungkinannya benar selebu!” menutup Kondabagil.

Artikel beroleh dilihat dalam: Patil & Kondabagil. (2021) Analisis koevolusi dengan filogenetik bermula alat replikasi Mimiviral mengungkapkan ibu seluler Mimiviruses.

———

Sumber: Institut Teknologi India Bombay; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini tak merepresentasikan langkah AsianScientist alias stafnya.