Pelajaran signifikan mulai kemudaratan pesawat tenggelam Indonesia

Author: Sigit S Nugroho and Keoni Indrabayu Marzuki, RSIS

Pada 24 April 2021, sisi berwajib Indonesia menjelaskan bahwa that Nanggala-402, pesawat tenggelam Angkatan Laut Indonesia yg buyar masa mengerjakan edukasi armada bahar atas 21 April, pernah kelelap. Meskipun bedel pengejaran bersama pengamanan menyasar yg menyertakan substansi armada bahar mulai Singapura, Australia, India, Malaysia bersama Amerika Serikat, regu pencari tak kuasa mendapatkan pesawat tenggelam itu. Puing-puingnya belakangan ditemukan atas 25 April dekat ketajaman bertambah mulai 800 meter dekat lunas kapal satah bahar. Semua 53 petugas dekat dalamnya, terjumlah hulubalang bagian pesawat tenggelam Angkatan Laut, wafat.

Tragedi ini becus dibilang membentuk kemusnahan terparah dekat ketika enak TNI AL, bersama mendatangkan perbincangan signifikan kirim karet pencipta kearifan proteksi Indonesia. Investigasi yg global bersama mandiri bakal mengenali pencetus utamanya banyak diperlukan, demi lengkung pertanggungjawaban akan satuan tugas yg wafat bersama bakal mencegah bencana selaku berlaku dekat ketika front.

Itu Nanggala mempunyai urusan sebelumnya pakai koordinasi ataupun perangkat yg cela. Pada tarikh 2012, tiga tubuh badan wafat berisi edukasi torpedo yg kubra lantaran peraka torpedo yg tuna. Sistem hubungan telepon lunas kapal larutan multifrekuensi onboard tuna dekat semua Nanggala’s edukasi buntut bersama buruk, mengabdikan hubungan pakai substansi parak. Petugas yg sebelumnya bekerja dekat pesawat Nanggala bertambah tua menunjukkan bahwa mereka pernah menghadapi pemadaman elektrik, dekat mana pengaturan pesawat tenggelam tak berpraktik. Kapten terakhirnya, almarhum Kolonel Heri Oktavian, serta sebagai persona mengucapkan kegundahan menyenggol kesiapan pesawat tenggelam lantaran penangguhan proteksi bersama pembetulan.

Angkatan Laut, bagaikan sekalian belahan ketentaraan Indonesia, niscaya mengintai ulang aturan keselamatannya bersama mengangkat pikiran keamanan yg bertambah selektif. Ini layak mengintai pendekatannya lawan keamanan petugas bersama peralatannya sepanjang bedel training, lebih-lebih lamun itu bermanfaat mengecilkan total arloji training setiap bagian operasional. Lebih signifikan juga, semua TNI niscaya mengerjakan audit global bakal menjumlahkan kesiapan alutsista.

TNI AL lekas mengorganisir regu pencari pakai menghimpun 21 pesawat bermacam-macam macam bakal meraba manusia buyar Nanggala. Itu yaitu pesawat penilikan hidrografi Angkatan Laut perorangan, the Rigel-933, yg mengenali letak yg diduga pesawat tenggelam bersama buru-buru mengirim simbol marabahaya ke International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (ISMERLO) yg mengompas spirit antarbangsa.

Pada masa yg sebanding, Nanggala Insiden tercatat menonjolkan keterampilan Angkatan Laut Indonesia yg terpaku bakal mengerjakan bedel pengejaran bersama pengamanan lunas kapal bahar. Berdasarkan atlas jalan protokol armada bahar larutan remaja, Indonesia bercita-cita bakal menguatkan legiun pesawat tenggelam yg terpandang selaku 10-12 pesawat bersama pernah memaraf persetujuan bakal penyediaan tiga pesawat tenggelam mulai Korea Selatan.

Namun sebelum keadaan, ekspansi keterampilan penunjang bedel pesawat tenggelam, bagaikan pengamanan pesawat tenggelam, belum selaku preferensi terbaik. Angkatan Laut mengajukan agenda penyediaan pesawat juru selamat pesawat tenggelam atas tarikh 2019, yg diharapkan waktu ini hendak ditinjau ulang demi preferensi. Kecelakaan itu semakin memperjelas bahwa angan-angan Indonesia bakal memperluas legiun pesawat selamnya niscaya dibarengi pakai pemodalan yg setara berisi keterampilan penunjang, terjumlah keterampilan pengejaran bersama pengamanan lunas kapal bahar.

Proses salvage dimulai atas asal Mei 2021 pakai spirit tiga pesawat salvage China. Mengingat belum lama ditemukan adanya teori kesibukan spionase nautikal China dekat bahar Indonesia, peristiwa ini mengundang perbincangan apakah spirit China ini membentuk ikhtiar bakal menggoyangkan pos Indonesia berisi latar belakang militerisasi Laut China Selatan yg bertambah lapang. Peristiwa ini menyuratkan bahwa Indonesia banyak tersila atas sisi asing bakal keterampilan pengamanan pesawat tenggelam. Mengingat peristiwa ini, mengelola relasi yg terpandang pakai negara-negara tubuh ISMERLO juga negara-negara pengoperasi pesawat tenggelam lainnya banyak signifikan.

Tetapi bagaikan yg disoroti sama seorang empu keselamatan nautikal, lebih-lebih kegiatan sebanding antarbangsa mempunyai batasnya menimbang setiap dukuh pasangan kerja layak merelokasi substansi pengamanan mereka ke bekas yg dibutuhkan. Pada kesimpulannya, Indonesia niscaya menebarkan keterampilan pengamanan pesawat selamnya perorangan. Kerjasama pakai pasangan kerja antarbangsa layak berfungsi berisi jalan ini. TNI Angkatan Laut layak mengerjakan agenda alterasi ingatan bersama edukasi pengamanan pesawat tenggelam berhubungan pakai pasangan kerja antarbangsa bakal menebarkan keterampilan bersama ingatan teknis berisi bedel pengamanan pesawat tenggelam.

Inisiatif ini hendak menangkup kontradiksi ingatan Indonesia pakai pasangan kerja antarbangsa bersama memajukan praktiknya berisi mengaryakan bersama menegakkan koordinasi pesawat tenggelam. Oleh lantaran itu, agenda tercatat semestinya tak sahaja menyertakan badan pesawat tenggelam, lamun serta bagian yg bertanggung elakan bakal menegakkan pesawat.

Ini yaitu sebanyak pengajian silang selimpat yg layak diambil sama Angkatan Laut Indonesia, bersama bisa penguasa Indonesia mulai Nanggala keadaan. Ini yaitu pengingat yg betul-betul bahwa Angkatan Laut Indonesia tersisih dekat WC angan-angan armada bahar hijau-airnya. Tapi mudah-mudahan, pengabdian badan pesawat tenggelam yg langka hendak menyulut penghampiran terakhir mendatangi keamanan operasional bersama memajukan keterampilan Angkatan Laut Indonesia.

Sigit Suryo Nugroho yaitu tamatan S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura.

Keoni Marzuki yaitu Associate Research Fellow pakai Program Indonesia dekat RSIS, Nanyang Technological University, Singapura.