Roundup Majalah Ilmuwan Asia Mei 2021

AsianScientist (1 Juni 2021) – Baik itu transformasi hawa, COVID-19 ataupun hangat berpembawaan, paruh intelektual dekat mintakat ini menonjok kasus memutar tekun dekat bumi sebagai melantas maka mewalakkan tiang kepada jalan lepas yg mangkus.

Dalam cerita sempurna rembulan ini, temukan impresi transformasi hawa ala wasiat pikiran Asia yg berbenda, disparitas sempurna jarak versi SARS-CoV-2 yg bertunas maka imbas penguncian ala peri hangat berpembawaan. Jika Anda menggemari materi yg bertambah pada bumi ini, bacalah akan penerimaan Mars terbaru dekat China ataupun biologi singularis pada cacing tambang leper yg dipenggal.

Untuk langsung mengontak Anda akan kreasi rasional terbaru pada Asia, beserta merupakan kira-kira perhatian abdi pada Mei 2021.

  • Zhurong Rover Membawa China ke Mars

    Ditetapkan kepada menganalisis rancangan penjelajahan beku luluk ancala berkobar purbakala maka es dekat belakang satah, pengunjung Zhurong China berlabuh dekat Mars ala 15 Mei 2021 lantas. Dengan perapatan ini, China sudah selaku benua ketiga yg berbunga menyinggahkan pengunjung dekat Planet Merah — maka yg mula-mula menjelang penampilan bak itu ala pemeriksaan mula-mula.

    Tiba dekat uraian yg nisbi enggak berfitur yg disebut Utopia Planitia, Zhurong berjantera heksa dilengkapi pakai kodak putusan semampai kepada merekam karakteristik wujud bintang siarah, laser kepada menjabarkan ilmu pisah darat bersama pencari kepada mengindra es dekat belakang satah.

    Selain itu, Zhurong bakal selaku pengunjung Mars mula-mula yg mensurvei lapangan besi sembrani bintang siarah — yg berpotensi memasrahkan sinyal akan macam mana bintang siarah kelenyapan atmosfernya selaku tamasya yg sejuk maka kurus bak kini ini.

  • Bagaimana Perubahan Iklim Menghancurkan Seni Batu Kuno Indonesia

    Sekitar 44.000 tarikh yg lantas dekat tanah Sulawesi, Indonesia, orang kuno menciptakan pigura gaung binatang tertua dekat bumi — pigura nangui gambol Celebes seukuran aslinya. Namun, bermutu kira-kira tarikh terkebelakang, perbuatan keterampilan ini maka perbuatan lainnya yg sebangun sudah memburuk pakai sungguh-sungguh lekas.

    Pelaku memerangahkan dekat pulih penurunan yg lekas ini? Garam. Karena perbuatan keterampilan ditempatkan dekat lingkungan yg memutar bergairah sebagai atmosferik, mukim termaktub menempuh transformasi hawa maka humiditas yg tautologis, menciptakan lingkungan imajiner kepada penghabluran jerut. Ketika beling jerut terdiri dekat satah batuan, situasi termaktub pandai membuahkan batuan termaktub terputus.

    Dengan meningkatnya gelombang peri situasi ekstrim imbalan transformasi hawa, hingga diperlukan ikhtiar perlindungan maka kontrol jangka lengkung berjarak kepada menaungi keterampilan wadas kuno pertama dekat kampus tropis.

  • Dengue: A Tale Of Two Lockdowns

    Ketika kesibukan penguncian bersambung dekat Singapura, sebuah studi belum lama mengekspresikan bahwa hangat kamar merupakan kasus yg memutar mendorong zaman teperdaya dekat cungkup. Pada tarikh 2020, benua termaktub menempuh taun hangat berpembawaan terbesar sangkat zaman ini, pakai bertambah pada 35.000 anak Adam terkontaminasi maka paling kurang 29 akhir hidup. Menariknya, kenaikan perkara hangat berpembawaan ini bersamaan pakai langkah-langkah pemutus lingkaran benua kepada mencegah penyebaran COVID-19.

    Sebaliknya, perkara DBD merendah dekat panggung pegiat migran bermutu waktu termin yg seimbang. Menurut paruh peneroka, mendindingi pegiat dekat bermutu balai yg acap dibersihkan dapat sudah menyurutkan akibat tertimpa hangat berpembawaan, dibandingkan kali mereka membinasakan hari-hari yg berjarak dekat bekas operasi pengembara ruangan sebelum taun.

    Pada keputusannya, studi termaktub menyatakan bahwa datang vaksinasi jadi, vital kepada teguh siaga sampai-sampai dekat cungkup pakai mengatasi nyamuk serampang pengangkat hangat berpembawaan yg mengaduhkan.

  • Varian SARS-CoV-2, Dijelaskan

    Ketika vaksin diluncurkan maka negara-negara timbul pada penguncian sepanjang berbulan-bulan, versi SARS-CoV-2 yg bertunas merisau kepada memorakporandakan pertumbuhan kita memprotes COVID-19. Mirip pakai virus beda, dosa berjalan zaman SARS-CoV-2 bereplikasi. Meskipun dosa ini umumnya enggak vital, terkadang dosa termaktub pandai menaikkan daya virus kepada menginfeksi, membuahkan kelainan, ataupun menyingkir koordinasi ketahanan.

    Satu versi khususnya, B.1.1.7, diyakini sangkat 50 premi bertambah menurun ketimbang virus wildtype SARS-CoV-2, pakai pertukaran yg membantunya menginfeksi organ orang pakai bertambah lemah-lembut. Untuk mencegah pertukaran sewarna itu, paruh peneroka mau menaikkan perakitan vaksin yg tegak maka sampai-sampai menghamparkan vaksin yg disesuaikan kepada setiap versi.

  • Tanpa Kepala, Tidak Masalah: Cacing leper yg dipenggal lagi terasa mudah

    Dari salamander sangkat kartika bahar, binatang yg pandai memaksimalkan pulang kotek ataupun bagian awak yg terhindar bukanlah situasi modern. Sebagai ekor yg memerangahkan ala urutan manusia yg beregenerasi mufrad, paruh peneroka pada India sudah mendapatkan bahwa cacing tambang leper pandai bersikukuh ramai maka sampai-sampai mengindra nur minus sirah mereka.

    Sementara cacing tambang leper umumnya pandai mengindra berjarak aliran nur nyata yg selebu pakai fokus mereka, sampai-sampai keturunan mereka yg dipenggal pula diamati menjauh pada mata air nur ultraviolet. Menurut pasukan, ini menyatakan bahwa cacing tambang leper mengantongi koordinasi penginderaan nur yg enggak bersangkut ala fokus yg merespons mengembangkan nur ultraviolet yg terhad.

    Secara keutuhan, temuan mereka mengusulkan anggapan pikiran singularis akan koeksistensi, perubahan, maka pertumbuhan kembar koordinasi penginderaan nur swapraja bermutu wahid makhluk bernyawa.

  • Hak Cipta: Majalah Ilmuwan Asia; Ilustrasi: Alexandra Valino / Ilmuwan Asia.
    Penafian: Artikel ini enggak merepresentasikan keputusan AsianScientist ataupun stafnya.